Pecatan Polisi Edarkan Sabu Pilihan

Jumat, 27 Januari 2017 14:35 Ditulis oleh  Diterbitkan di Blitar
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Ketiga tersangka didampingi petugas sambil menunjukkan BB. Ketiga tersangka didampingi petugas sambil menunjukkan BB.

Blitar, Memorandum - Ancaman hukuman kurungan penjara bagi pengedar narkoba ternyata tak membuat pengedar sabu di Blitar jera.  Bahkan peredaran narkoba jenis sabu ini telah melibatkan salah satu oknum pegawai negeri sipil (PNS)  dilingkup Pemerintah Kota Blitar, serta polisi yang telah dipecat karena disersi.

Kasat Narkoba Polres Blitar Kota AKP Huwahila dalam rilis di Mapolres Blitar Kota,  Kamis (26/1) mengatakan,  oknum PNS Pemkot Blitar tersebut bernawa Agus Wibowo (43), warga Jalan Bakung, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Sementara pecatan polisi merupakan Endro Wahyudi (48), warga Lingkungan Bandar Lor , Kecamaran Mojoroto, Kota Kediri. Kemudian satu lagi Damaroch Krido Santoso (49) warga Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta.

"Satu merupakan oknum PNS Pemkot Blitar,  sementara satunya lagi mantan anggota polisi yang dipecat karena disersi atau indisipliner,  dan satu lagi swasta, " jelas AKP Huwahila Wahyu kepada wartawan. 

Ia menjelaskan Agus Wibowo ditangkap di salah satu rumah di kecamatan Sukorejo Kota Blitar.  Sementara Endro Wahyudi dan Damaroch Krido Santoso ditangkap di Pasar Patok, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar saat akan mengantar barang pesanan.  "Ketiga pelaku berhasil kita amankan dalam waktu satu kali 24 jam didua lokasi berbeda,” paparnya.

Sementara barang bukti yang diamankan, sabu seberat total  1,7 gram beserta peralatannya, satu ATM BCA dan uang tunai Rp 120 ribu. Di depan media, Agus Wibowo yang masih  aktif sebagai PNS di UPTD Pasar Kota Blitar mengaku baru setengah tahun mengenal sabu. Merasa kurang bermanfaat bagi staminanya, akhirnya ia malah terjebak dalam peredaran barang terlarang itu

Sedangkan Endro Wahyudi yang pecatan Polri Solo mengaku sengaja menjadi pengedar untuk mendapatkan penghasilan, selepas tidak lagi bertugas. Mereka melanggar pasal 112 UU RI tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. (ana)