Warga Enam Desa Demo Pabrik Holcim

Jumat, 27 Januari 2017 17:35 Ditulis oleh  Diterbitkan di Tuban
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Warga ketika orasi disekitar pabrik. Warga ketika orasi disekitar pabrik.

Tuban, Memorandum - Belasan warga dari ring satu pabrik semen PT. Holcim Indonesia Tbk, terdiri dari enam desa mengelar demo di depan pabrik, di Desa Merkawang, Kecamatan Tambakboyo, Kamis (26/1). Warga berdalih, meski sudah beberapa tahun berdiri, namun keberadaan pabrik belum memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Warga dari Desa Karangasem, Merkawang, Gelondonggede, Sawir, Mliwang dan Desa Kedungrejo, menuding bahwa tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada tahun 2016, banyak tidak jalan.

“Program-program CSR tahun 2016 banyak yang dikepras atau tidak jadi dilaksanakan, dengan alasan efesiensi serta gocangan perekonomian,” kata Amir, koordinator aksi.

Menurutnya, jumlah tenaga kerja belakangan mulai diganti dengan mesin. Selama ini, perusahan belum menjalankan komitmen untuk tenaga kerja lokal sebesar 75 persen, dan 25 persen tenaga kerja dari luar.

“Kalau semua diganti mesin, terus warga yang sudah terlanjur menggantungkan hidupnya pada Holcim mau kerja apa lagi. Sementara lahan pertanian sudah terlanjur dijual pada Holcim,” terang Amir.

Ia juga menjelaskan bahwa selama ini keberadaan pabrik semen justru merugikan warga sekitar pabrik. Hal itu bisa dilihat dari pencemaran lingkungan yang terjadi di sekitar pabrik dan deru mesin pabrik yang mengganggu ketenangan warga.

Di samping itu, dalam tuntutan itu warga meminta PT. Holcim Indonesia membuat saluran pembuangan air hujan yang tertata dan sistematis. Warga juga meminta agar perusahaan mengurangi penggunaan lampu di sekitar area lahan pertanian milik warga, karena mempengaruhi hasil panen.

“Perusahaan harus komitmen atas prosedur dan aturan yang telah dibuat,” jelas Amir.

Sementara itu, Indriani Siswati, Corprorate Communication East Java dan Bali, PT Holcim Indonesia, dihadapan warga mengatakan, perusahaan senantiasa berkomitmen untuk membangun kepercayaan dan hubungan baik dengan pemangku kepentingan termasuk warga dalam menjalankan semua kegiatan.

“Pabrik dibangun dengan memprioritaskan kearifan lokal dan melaksanakan program yang berkelanjutan,” ungkap Indriani.

Menurutnya, pelaksanaan CSR program sebagai bagian bentuk dari komitmen perusahan untuk turut membangun masyarakat dan berdasarkan koordinasi yang melibatkan masyarakat sekitar pabrik. Selanjutnya, dalam melaksanakan operasionalnya perusahaan sangat terbuka untuk menerima saran.

“Saran konstruktif dan diskusi dari pemangku kepentingan untuk kita sangat terbuka, hal itu untuk kebaikan bersama,” jelasnya. (mah/roh)