Jaksa Fauzi Dituntut Ringan, Kasus Suap Rp 1,5 Miliar Pilihan

Rabu, 25 Januari 2017 18:36 Ditulis oleh  Diterbitkan di Hukum
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Ahmad Fauzi mendengarkan tuntutan jaksa. Ahmad Fauzi mendengarkan tuntutan jaksa.

Surabaya, Memorandum - Meski dianggap terbukti menerima suap sebesar Rp 1,5 miliar, namun nasib Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Ahmad Fauzi rupanya cukup bernasib baik. Sebab, meski dalam pasal yang dijeratkan padanya mengisyaratkan hukuman yang berat, namun jaksa penuntut umum (JPU) hanya menuntut ringan, yakni 2 tahun penjara saja.

Ini lah yang terjadi dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Juanda Surabaya, Selasa (24/1) kemarin. Tuntutan terhadap Fauzi tersebut, dibacakan secara bergantian oleh tiga JPU.

Dalam persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Wiwin Arodawati, JPU Erni Maramba membacakan tuntutannya terhadap terdakwa Ahmad Fauzi, dan kemudian Abdul Manaf. Dalam pembacaan tuntutan tersebut JPU menuntut kedua terdakwa, sesuai dengan pasal 5 ayat 2 juncto, pasal 5 ayat 1a no.31, tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yang telah disempurnakan pada pasal 20 tahun 2001, dengan tuntutan pidana 2 tahun penjara dikurangi selama masa tahanan dan denda Rp 50juta subsider 3 bulan kurungan.

Menurut jaksa, pertimbangan yang meringankan terdakwa Ahmad Fauzi, karena terdakwa bersikap sopan, mengakui dan berterus terang serta menyesali perbuatannya. Selain itu, ia juga dianggap belum menikmati hasil kejahatannya dan sebagai tulang punggung keluarganya.

Sementara itu, pertimbangan yang memberatkan, jaksa Fauzi seharusnya tidak berperilaku demikian lantaran ia merupakan aparat penegak hukum. “Meminta pada hakim agar menjatuhkan pidana selama 2 penjara,” ujarnya.

Ringannya tuntutan jaksa ini tentu saja sangat ironis, mengingat dalam pasal 5 yang dijeratkan pada jaksa, dianggap tidak sepadan dengan tingkah jaksa Fauzi. Penyesalan ini diungkapkan oleh Agus Sutiyono, salah satu pengunjung sidang.

Ia menyatakan, jika seharusnya fauzi dijerat dengan menggunakan pasal 12 undang-undang Tipikor. Sebab, untuk pasal tersebut, ancaman pidananya cukup tinggi. Sedangkan untuk pasal 5 yang dijeratkan ini, ancaman pidananya sangat ringan.

“Enak sekali nasibnya. Orang terima uang milyaran tapi ancaman pidananya sangat ringan,” ujarnya.    

Sidang akan dilanjutkan Selasa depan (6/2) dengan agenda pembelaan dari para terdakwa. Sementara, JPU Erni Maramba seusai sidang menjelaskan bahwa kedua terdakwa dalam persidangan memberikan pernyataan yang berkaitan selama persidangan. (ang/cr2)