Bayi (itu) Titipan Tuhan

Selasa, 24 Januari 2017 23:21 Ditulis oleh  Diterbitkan di Opini
Nilai butir ini
(0 pemilihan)

OLEH: ZAINUL ARIFIN

ORANG tua bertanggungjawab mendidik dan membesarkan anak yang dilahirkannya. Bukan dibuang, diabaikan atau bahkan dibunuh. Ada pepatah jawa mengatakan banyak anak banyak rezeki Saya mengartikan, anak-anak yang dilahirkan itu akan membawa rezeki bagi keluarganya.

Kondisi saat ini tampaknya berbeda. Di pemberitaan sejumlah media, marak pembuangan bayi yang dilakukan oleh orangtuanya. Miris dan menangis hati saya membaca kasus kasus seperti itu. Sebab, itu tidak hanya terjadi di kota-kota besar, melainkan juga telah merambah ke daerah-daerah. Bayi tak berdosa dibuang di berbagai tempat, baik di sawah, kamar mandi, tempat sampah, kuburan ataupun di mana tempat yang paling dianggap aman dari penglihatan orang.

Di Kabupaten Madiun, bulan November 2016 lalu  pasangan muda yakni Arie Adrianto (24) dan Laila Nur Fathiyah (24) nekat membuang bayinya hidup-hidup saat menjelang subuh di musholla Nurul Abror, Desa Rejosari, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Madiun.

Selang tak lama meraka berhasil ditangkap. Pasangan kekasih asal Kabupaten Magetan itu mengaku nekat membuang anak yang dikeluarkan dari rahimnya karena himpitan ekonomi keluarga. Mereka beralasan tak bisa mencukupi kebutuhan anaknya, terutama kebutuhan untuk membeli susu. Anehnya, selama ini mereka menutupi aib itu dari keluarganya karena mereka bukan pasangan resmi menikah. Kedua pasangan bukan resmi itu ditangkap disebuah kos kosan yang ada di Kabupaten Madiun.

Lebih miris dan mengerikan, kasus pembuangan bayi itu juga menimpa para pelajar dan mahasiswa. Seakan kehadiran sang jabang bayi tidak dikehendaki oleh ayah dan ibunya yang mungkin hanya mau coba-coba atau senang-senang saja. Di Kota Madiun, pada 3 Januari 2017 kemarin, mahasiswi bernama Intan Ariyani (19) telah tega membuang bayinya yang sudah dalam keadaan mati. Bukan di makamkan secara baik baik, tapi jasad bocah tak berdosa itu dibungkus plastik kemudian dimasukkan kedalam kardus beserta oroknya. Tanpa merasa bersalah, layaknya membuang kotoran, Mahasiswi yang masih duduk di semester satu itu lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada dibelakang asrama kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES), Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Kasus  pembuangan bayi, menurut saya, banyak faktor yang menjadi pemicunya. Di antaranya, masalah sosial, spiritual, ekonomi dan perkembangan teknologi.

Di dalam masalah sosial, remaja hamil di luar nikah menjadi pemicunya. Seks bebas seakan menjadi hal lumrah sat ini, bahkan tak jarang remaja-remaja sekarang mengumbar kemesraan di depan umum atau di media sosial. Berpose sedemikian rupa yang mengundang hawa nafsu. Orangtua yang telah lepas kontrol membuat para muda mudi melakukan tindakan terlarang. Saat mengandung dan melahirkan, yang ada di benaknya, membuang bayi menjadi solusi terbaik bagi mereka karena takut, malu dengan sekitar, dan belum siap dengan tanggungjawab yang dipikulnya.

Sikap manusia yang suka mengkritik dan menghukum turut membuat mereka hilang hati nurani, membuang buah hatinya. Apabila seorang remaja perempuan melahirkan anak di luar nikah, maka masyarakat setempat akan menggunjingnya, menjadikan bahan pembicaraan dan memandang remeh padanya. Secara tidak langsung remaja perempuan pastinya dianggap mencoreng nama baik keluarga.   

Dengan pemikiran seperti itu, akan merasa tertekan dengan beban yang ditanggung seorang diri. Demi menjaga nama baik keluarga dan dirinya sendiri, tak jarang remaja tersebut mengambil jalan pintas dengan membuang bayinya dan mengabaikan resiko dari perbuatannya, karena yang ada dipikirannya hanya bagaimana caranya dia tidak mencoreng nama baik keluarga.

Pengaruh juga dari faktor spiritual. Kurangnya pemahaman nilai agama membuat mereka tidak lagi takut akan Tuhan dan resikonya. Kekurangan pendidikan agama sebagai panduan dan pedoman hidup menyebakan hilang arah dalam kehidupan dan terlibat dalam gejala-gejala negatif seperti pergaulan bebas dan berakibat kehamilan di luar nikah. Sehingga muncul jalan pintas dan membunuh nuraninya. Peran agama dalam kehidupan sangat penting untuk membentuk pegangan hidup yang teguh dan bukannya menuruti hawa nafsu semata-mata.

Dalam faktor ekonomi menjadi pemicunya. Kehadiran anak seakan menjadi beban dan mempersulit ekonominya. Dengan ekonomi yang pas pasan, dianggapnya tak mampu menghidupi dan membesarkan anaknya. Jalan pintas yang muncul meninggalkan buah hatinya di teras rumah orang, di tempat pelayanan kesehatan, dan bahkan di tempat ibadah. Tak jarang mereka juga membuang bayinya sembarangan bahkan di pinggir jalan.   

Masalah ini tentu harus menjadi perhatian kita semua. Karena kalau dibiarkan begitu saja, bukan hanya tidak mungkin pembuangan bayi akan terus-menerus terjadi. Dan bayi-bayi tak berdosa itu tidak akan pernah tahu siapa orang tua kandung mereka bahkan bayi-bayi lucu itu tak jarang ada yang belum sempat merasakan indahnya dunia.

Bayi itu titipan Tuhan yang harus dirawat, dididik dan dibesarkan yang kelak akan membawa rezeki tersendiri dan mendoakan orangtuanya, baik ketika masih hidup maupun sesudah meninggal. (Penulis adalah Kepala Biro Memorandum Madiun Raya)