Suamiku Melamar Janda

Minggu, 08 Januari 2017 17:02 Ditulis oleh  Diterbitkan di Kisah
Nilai butir ini
(0 pemilihan)

Penantian demi penantian kian melelahkan. Mendung kelabu tergantung beku menghias cakrawala.

Tidak lama lagi curah hujan akan membasahi dedaunan depan rumahku.

Jam dinding ruang tamu menunjukkan pukul 03.20. Sedangkan mataku mulai lelah tak sanggup menahan kantuk. Mas Romy yang aku nanti sejak pukul 20.00 sampai menjelang pagi belum kembali. Entah pergi kemana dia. Biasanya kalau tidak pulang dia memberi tahu lewat telepon di rumah. Dengan begitu aku tak cemaskan dia.

Namun beberapa bulan terakhir ini suamiku sering tidak memberi tahu, kemana dia tidak pulang dan dimana dia tidur. Sikapnya kian memusingkan. Aku, Yulia warga Surabaya, sering kebingungan mencemaskan keberadaan suamiku.

Nanti kalau sudah tiba di rumah, ucapannya ringan seolah tak ada masalah. “Tertidur di rumah teman,” jawab suami tak memikirkan kecemasanku. Pantas tak membalas teleponku, harus kusadari posisi suami asal benar-benar tertidur di rumah temannya. Aku tak boleh gampang emosi.
Disaat aku selalu memberi toleran ke suami, tak tahunya dikejutkan oleh kabar tak menyenangkan. Tak sangka suamiku membagi cintanya pada wanita lain. Dia berencana melamar seorang wanita berstatus janda memiliki satu anak.

Walau acara lamaran tidak dilakukan meriah, hanya tukar cincin saja, seperti kata kakaknya, namun sudah mengecewakan aku. Sungguh hatiku terluka. Rasa sakit yang mengimpit dada membobol kesabaranku hingga emosi meledak melihat suami pulang dengan pakaiannya menebar aroma minyak wangi.
Kutanya dari mana, suami mengaku baru datang drai rumah temannya yang menggelar jahatan. “Kamu bohong! Kamu baru tukar cinta dengan wnaita lain. Teganya kamu mengkhianati aku,” bantahku seraya mendesak suami agar berkata jujur.

“Maafkan aku yang tak bisa meninggalkan wanita itu,” tegas suami. Jawaban singkat itu merobek kalbuku hingga sakitnya tak karuan. Dada ini seperti ditusuk ribuan paku. Sejak itu aku tak sanggup lagi mempertahankan rumah tangga bersama Mas Romy. Kehidupan kami kian lama kian tak ada kecocokan, sering cek cok dan tak harmonis lagi.

“Itu alasanku datang di Kantor Pengadilan Agama (PA) Surabaya, mengajukan cerai gugat. Sedangkan suami hanya pasrah dengan keinginanku,” jelas Yulia ditemui di kantin dekat kantor PA, selesai mengajukan permohonan cerai.(*)