Berbaju Badut, Harris Ajar Warga Buta Huruf Pilihan

Selasa, 31 Januari 2017 23:41 Ditulis oleh  Diterbitkan di Surabaya Kota
Nilai butir ini
(0 pemilihan)
Dengan mengenakan kostum badut, Harris mengajar warga Pawiyatan. Dengan mengenakan kostum badut, Harris mengajar warga Pawiyatan.

Surabaya, Memorandum - Di Kota Surabaya yang dijuluki sebagai kota Metropolis, rupanya masih banyak warga yang mengalami buta huruf. Inilah yang menjadi keprihatinan Harris Rizki, seorang pengajar di SDN IV Bubutan Surabaya ini, berusaha mengentaskan masalah tersebut.

Lelaki kelahiran Surabaya  pada 34 tahun silam ini, rela menyisihkan waktu dan tenaganya untuk mengajar warga yang masih  buta huruf. Kegiatan itu sendiri sudah dijalani sejak 2009. Itu pun dilakukan dengan suka rela.

“Apa yang saya lakukan ini sebagai bentuk keprihatinan. Karena saya memiliki ilmu, itu yang sama berikan,” kata Harris Rizki.

Harris mengatakan kegiatan itu dilakukan tidak hanya satu tempat, tapi  banyak tempat. Biasanya pada perkampungan padat penduduk atau kumuh.  Sebab, di sana banyak warga yang tidak pernah sekolah sehingga  buta huruf.

Seperti Senin (30/1), ia mengajar di kampung kumuh daerah Pawiyatan Kelurahan Bubutan, persis di belakang sekolah SDN Bubutan IV Surabaya.  Tidak lupa,  Harris memakai kostum badut lengkap dengan boneka tangan. 

Kehadirannya di sana, mendapat sambutan hangat ibu-ibu yang sudah menunggu di  gardu yang belum selesai dibangun. Meski muridnya belajar sambil membawa anak, Harris tak keberatan. Dirinya tetap asyik dan sabar menjelaskan cara baca dan menulis huruf abjad.

Harris pun memperkenalkan huruf satu persatu pada mereka. Agar suasana belajar itu nyantai dan menyenangkan,  Harris yang memakai baju badut ini  juga membawa boneka tangan. Tidak heran waktu belajar itu sekitar 1 jam itu terasa begitu cepat.

“Saya memakai baju badut ini agar suasana belajar mengajar ini  biar menyenangkan. Harapannya agar ibu-ibu  bisa cepat mengerti,” kata lelaki yang suka mendongeng ini.

Ia mengatakan mengajar sambil memakai baju badut ini baru dilakukan  pada 2015 lalu. Sebelumnya ia mengajar dengan berpakaian biasa.

Tidak hanya memakai baju badut, ia pun  juga memakai baju unik lainnya ketika mengajar. Biasanya  di tempat tertentu, ia memakai  kostum yang berbeda.

“Saya pernah memakai baju Hanoman ketika mengajar di Gundih. Selain itu juga pernah memakai kostum Arjuna di Wonokromo. Apa yang saya lakukan ini agar suasana belajar menjadi menarik.  Untuk mendukung itu, saya memiliki beberapa kostum,” katanya.

Untuk mengajar di tempat yang berbeda, Harris punya cara yaitu melakukan survei. Biasanya ia akan nongkrong di warung untuk mendapatkan informasi soal warga yang buta huruf. Ketika mendapatkan informasi itu, ia akan mendatangi pengurus kampong untuk kulonuwun.

“Kami datangi pengurus kampung setempat untuk minta izin. Sekalian juga menanyakan  tempat yang bisa dipakai untuk belajar. Tak ketinggalan saya tanyakan apakah ada papan tulis. Jika memang tidak ada, saya bawa papan tulis sendiri,” jelas lelaki yang indekos bersama istrinya di kawasan Plemahan.

Terkait dukungan kelurga  dengan kegiatan yang dilakukan, ia mengatakan istrinya sangat mendukung.  Bahkan Kepala SDN Bubutan IV  tempatnya  bekerja juga memperbolehkan terutama mengajar di lingkungan sekitar sekolah.

Harris mengaku akan terus mengunjungi perkampungan kumuh, secara rutin seminggu sekali hingga dua kali dengan membawa buku-buku cerita. “Saya akan terus mengajar hingga  mereka terbebas  buta huruf,” tegasnya. (udi)